Archive

Archive for the ‘Umum’ Category

Unnes Peringkat ke-29 (INA) Webometrics Januari 2010

February 10th, 2010

Akhirnya pemeringkatan universitas kelas dunia versi Webometrics untuk periode Januari 2010 telah dibuka. Pemeringkatan yang agak terlambat 2 minggu dari jadwal akhir Januari 2010 ini tentu banyak ditunggu-tunggu oleh semua universitas, tak terkecuali Universitas Negeri Semarang (Unnes). Sebagai pihak yang banyak bersinggungan dengan hal tersebut, saya juga dag-dig-dug dibuat menunggu. Setiap hari terus mencoba mengecek pemeringkatan periode ini dengan satu ketakutan, Unnes terlempar dari 6000 top.

Sore ini ketika membuka situs webometrics di www.webometrics.info, saya segera mencari pemeringkatan untuk Indonesia. Alhamdulillah setelah dilihat Unnes masuk peringkat ke-29 untuk seluruh perguruan tinggi di Indonesia atau peringkat 3724 untuk seluruh perguruan tinggi dunia. Sebelumnya Unnes menempati peringkat ke-5976 dunia pada bulan Juli 2009, dan harus puas bertengger pada posisi 4800 dunia pada pemeringkatan Januari 2009. Daftar selengkapnya untuk pemeringkatan Webometrics perguruan tinggi Indonesia yang masuk 6000 top dunia bisa dilihat pada halaman ini. Prestasi ini mungkin belumlah menyenangkan, karena rekan eks-IKIP seperti UM masuk peringkat 6 Indonesia, UPI peringkat 14, UNY peringkat 21, Unnes peringkat 29, sedangkan eks-IKIP yang lain seperti UNJ, UNESA, UNM, UNP, UNIMED belum kelihatan di jajaran 6000 top dunia.

Saya langsung melakukan kontak dengan Pak Rektor, Pak PR I, dan Pak Kepala UPT PTIK untuk menginformasikan hasil pemeringkatan ini. Hasil diskusi singkatnya adalah, kita perlu melakukan pembenahan di sektor RichFiles, dan Scholar. Karena pada pemeringkatan ini dari segi Size Unnes peringkat 3285 (21 Indonesia), Visibility peringkat ke 4727 (34), Rich Files 6448 (38), dan Scholar peringkat 2139 (18). Rangking ini tentunya mengalami kenaikan, walupun tidak signifikan. Seperti dalam tulisan saya yang lalu,  dalam pemeringkatan Webometrics yang dirilis Juli 2009, Unnes menempati posisi 2406 (sebelumnya pada Januari 2009 peringkat ke-1945) pada unsur size, 7142 (Januari 2009 peringkat ke-4174) pada visibility, 6579 (Januari 2009 peringkat ke-8789) pada rich files, dan 8399 (Januari 2009 peringkat ke-9238) pada scholar.

Semoga hasil ini bisa membawa dampak yang baik bagi seluruh sivitas akademika Unnes. Viva Unnes Sutera!!

KeUNNESan, Pengalaman, Umum , , , , , , , ,

Alasan Utama Penolakan Ujian Nasional

January 29th, 2010

Mengapa ada sebagian kecil orang tua tidak setuju dengan Ujian Nasional? Mengapa ada sebagian siswa yang ikutan demo menolak Ujian Nasional? Berikut ini adalah alasan utamanya

  1. ORANGTUANYA KHAWATIR ANAKNYA TIDAK LULUS DAN MERASA MALU,
  2. MALU KALAU ANAKNYA AGAK GOBLOK
  3. Siswa sekarang sudah dicekoki dengan sifat tidak PD, tidak ulet, dan selalu dimanja. Ujung-ujungnya sifat pragmatis (ingin serba instan) selalu muncul.
  4. Tidak sadar kalau evaluasi oleh pihak eksternal itu penting, yang berarti belum ada kejujuran dalam diri sendiri.

Saya sangat sepakat jika Ujian Nasional diperbaiki kualitasnya. Tapi mengapa justru yang dipermasalahkan kok bukannya “banyaknya guru dan Kepala Sekolah yang melakukan kecurangan terstruktur”, kenapa bukannya bagaimana mengatasi ketidakjujuran siswa? kenapa bukan bagaimana menanamkan sifat ksatria dan penuh tanggungjawab kepada anak?

Itulah Indonesia kita tercinta. Semua dimabukkan oleh kepentingan sesaat. Semua disibukkan dengan urusan yang ingin serba instan. Padahal kalau kita cermati, untuk bisa lulus dari satuan pendidikan HARUS lulus dalam tiga komponen., dan masing-masing memiliki bobot yang sama. Yaitu kelulusan ujian nasional, kelulusan ujian sekolah, dan kelulusan dari satuan pendidikan. Masalah muncul karena kelulusan ujian sekolah dan kelulusan dari satuan pendidikan semua dikatrol habis-habisan. Semua sudah tidak jujur dalam hal ini. Pendidik tidak jujur, siswa tidak jujur, kepala sekolah juga tidak jujur.

Tidak lulus ujian nasional adalah hal yang lumrah. Lihat saja bagaimana ksatrianya bapak-bapak kita jaman dulu yang ketika tidak lulus ujian juga tidak shock, tidak stress. Karena memang lumrah, dalam sebuah evaluasi pasti ada yang gagal. Kalau semua lulus, justru itu menjadi tanda tanya besar. Ini terkait dengan sifat siswa dan anak-anak kita yang selalu saja dimanja habis-habisan. Tidak pernah diberikan latihan bertanggungjawab untuk memikul suatu masalah. Akhirnya kalau gagal, jadi stress, shock berat, bahkan ada yang bunuh diri. Mestinya orang tua juga harus instrospeksi diri, apakah sudah benar cara mengontrol anak. Pendidik juga harus mawas diri, apakah sudah sepebuh hati dalam mendidik siswa. Pengelola sekolah juga harus koreksi diri, apakah sudah jujur dalam melakukan manajemen sekolah. Pemerintah harus juga berkaca, sudah meratakah fasilitas pendidikan di negeri ini?

Kenyataan yang sunggu aneh, adalah pemberian bantuan/insentif bagi sekolah yang kelulusannnya tinggi, namun memberikan sanksi bagi sekolah dengan kelulusan rendah. Mestinya, pola pikir itu dibalik, yang kelulusannnya rendah diberikan bantuan. Dengan demikian, setiap sekolah akan jujur untuk memotret kualitas masing-masing. Tapi ini tidak mudah, karena semua pejabat butuh citra. Guru butuh citra. Kepala sekolah butuh citra. Orang tua butuh citra. Namun citra saja tidaklah cukup, melainkan tujuan akhirlah yang paling penting.

Untuk lebih jelasnya silahkan dibaca kriteria kelulusan sebagai berikut:

A. Kelulusan Ujian Nasional (UN)

    Siswa dinyatakan lulus UN jika memenuhi standar kelulusan Un sebagai berikut :

  1. Memiliki nilai rata-rata minimum 5,00 untuk semua mata pelajaran yang diujikan, dengan tidak ada nilai dibawah 4,25.
  2. Memiliki nilai minimum 4,00 pada salah satu mata pelajaran, dengan nilai mata pelajaran lainnya yang diujikan pada UN masing-masing 6,00.

B. Kelulusan Ujian Sekolah

  1. Kepribadian sekurang-kurangnya mendapat nilai baik
  2. Lulus Ujian Praktik untuk semua mata ujian praktek
  3. Memiliki nilai rata-rata minimum 6,00.
  4. Memiliki nilai minimum setiap mata pelajaran Ujian Sekolah, berdasarkan kriteria ketuntasan minimal.

C. Kelulusan dari Satuan Pendidikan

    Pengumuman kelulusan siswa dari satuan pendidikan dilakukan oleh sekolah madrasah penyelenggara setelam menerima DKHUN. hasil ujian sekolah madrasah, serta hasil penilaian lainnya bagaimana tertera pada pasal 72 PP 19/2005, selengkapnya sebagai berikut :
  1. menyelesaikan seluruh program pembelajaran
  2. memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok meta pelajaran agama dan ahlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan
  3. lulus ujian sekolah madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknoplogi dan
  4. lulus UN
    1. nilai rata-rata kelulusan (NK) dihitung dengan menggunakan formula berikut :NK = (A+B+C)/3

      Keterangan :
      NK = Nilai rata-rata kelulusan
      A = Rata-rata nilai raport semester I - VI
      B = Rata-rata nilai ujian sekolah
      C = Rata-rata nilai ujian sekolah

    2. Predikat kelulusan berdasarkan katagori sebagai berikut :
      NK lebih besar atau sama dengan 8,5 = sangat baik
      NK lebih besar atau sama dengan 7,5 dan kurang dari 8,5 = baik
      NK kurang dari 7,5 = cukup
  5. Keempat kreteria kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan di atas harus dipenuhi oleh peserta didik. Apabila salah satu kriteria tidak terpenuhi, peserta didik dinyatakan tidak lulus dari satuan pendidikan. Satuas pendidikan yang akan memberi predikat bagi peserta didik yang lulus dari satuan pendidikan, sambil menunggu standar penilaian pendidikan ditetapkan mengikuti ketentuan sebagai berikut :

Umum, Uncategorized , , , ,

Soal Prediksi Ujian Nasional (UN) 2009

March 6th, 2009

Ujian Nasional (UN) 2009 baik untuk sekolah menengah pertama/madrasah tsanawiyah maupun UN untuk sekolah menengah atas dan Madrasah Aliyah sebentar lagi akan dilaksanakan. Biasanya, hampir semua sekolah melakukan drill soal-soal ujian kepada siswanya. Satu hal yang mungkin sangat naif menurut hati saya. CUma memang barangkali baru itu yang bisa diperbuat sekolah berkaitan dengan kebijakan UN tersebut. Sekolah dituntut untuk tampil baik dengan meluluskan semua siswanya. Kelulusan siswa menjadi tolok ukur prestasi sekolah. Namun apakah ini benar? menurut saya ini tidaklah sepenuhnya benar. Alasannya apa kang? Di satu sisi, memang benar bahwa dengan baiknya pola pembelajaran yang dilakukan sekolah, maka secara sunnatullah siswa yang semula tidak tahu akan menjadi ‘tahu’, sehingga bisa mengerjakan soal dengan baik. Itu jika sekolah memang benar-benar berfungsi sebagai sekolah, bukan tempat penggorengan kacang-kacang masa depan yang menjadi gosong hanya agar bisa dinikmati sesegera. Namun dibalik itu semua, bahwa lulus dan tidak lulus dalam sebuah ujian adalah sebuah hal yang normal. Secara sunnatullah pula, bahwa tidak lulus ujian adalah hal yang lumrah bagi mereka yang memang secara ilmu tidak mampu. Jadi bagi mereka yang sebenarnya tidak mampu ya jangan dipaksa-paksa untuk lulus dengan cepat. Jangan-jangan nanti malah menjadi gosong dan tidak berguna lagi. Dalam statistikpun dikenal kurva normal dalam memandang sesuatu yang ideal. Jadi kalau ada yang tidak lulus adalah suatu kewajaran, jadi bukan suatu aib bagi sekolah.

JIka semua pihak sudah menyadari demikian, maka tindakan yang tidak terpuji dengan memanipulasi hasil UN tentu bukanlah suatu yang perlu dilakukan. Apalagi bagi sekolah-sekolah yang mengusung trendmark ‘Islam’ semacam Madrasah Tsanawiyah atau Madrasah Aliyah. Banyak dari pimpinan sekolah yang ingin semua siswanya lulus ujian dengan berbagai cara. Dan seperti saya utarakan di atas, sudah jamak jika semua siswanya lulus UN, maka Kepala Sekolah disebut berhasil. Padahal mereka melakukan kecurangan. Masyaallah.

Ujian Nasional tingkat SMA/MA mulai tahun ini agak berbeda dengan tahun lalu. Karena pengelolaannya diserahkan ke Perguruan Tinggi. Di Jawa Teng ah atas rekomendasi Majlis Rektor Indonesia, Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) menunjuk Unnes sebagai penyelenggara UN Tahun 2009 tingkat Jawa Tengah bersama dengan Gubernur Jawa Tengah. Dengan adanya peran PT di sini, maka kebocoran soal yang selama ini menjadi momok menakutkan bagi setiap peserta akan bisa dihilangkan. Mengapa? karena track record perguruan tinggi dalam menyelenggarakan ujian masuk bersama tingkat nasional belum sekalipun yang bocor.

Sebagai bahan pertimbangan, khusus bagi peserta UN 2009, maka perlu kiranya membaca Peraturan Menteri Pendidikan Nasional  (Permendiknas) Nomor 77 Tahun 2008 tentang Ujian Nasional Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA) Tahun Pelajaran 2008/2009 , Permendiknas Nomor 78 Tahun 2008 tentang Ujian Nasional Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah/Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMP/MTS/SMPLB), Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Tahun Pelajaran 2008/2009 , dan Permendiknas No.  82 tahun 2008 tentang Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) Untuk Sekolah Dasar /Madrasah Ibtidaiyah/Sekolah Dasar Luar Biasa (SD/MI/SDLB) Tahun Pelajaran 2008/2009. Dari Permendiknas ini baik guru dan peserta UN 2009 bisa memprediksikan soal-soal yang akan diujikan pada UN 2009 nantinya. Karena dalam Permendiknas tersebut sudah diberikan kisi-kisi soal UN 2009.

Silahkan bagi yang berminat bisa download file Permendiknas di halaman ini.

KeUNNESan, Umum , , , , , ,

Peta Lokasi Tes Tulis SPMU 2009

February 24th, 2009

Pelaksanaan Seleksi Penerimaan Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (SPMU) tahun 2009 sedikit mengalami perubahan bila dibandingkan dengan SPMU tahun sebelumnya. SPMU 2009 dilaksanakan dengan membuka dua jalur seleksi yaitu seleksi jenjang diploma (D3) dan Sarjana (S1), dan seleksi SPMU berbeasiswa (SPMU-B) yang seleksinya dilaksanakan secara bersamaan. Setelah melalui masa pendaftaran dan verifikasi secara online mulai tanggal 13 Januari 2009 sampai dengan 13 Februari 2009, jumlah total peserta tes SPMU 2009 sebanyak 19.252 orang atau naik secara signifikan sebesar 44,06% dari peserta tahun sebelumnya 13.364 orang. Sebagaimana tahun sebelumnya pada SPMU tahun ini didominasi oleh pendaftar berjenis kelamin wanita sebanyak 11.658 orang (60,55%) dan 7.594 orang (39,45%) laki-laki.

Tingginya animo masyarakat dalam SPMU 2009 ini mengakibatkan tidak semua peserta tes tulis yang akan diselenggarakan pada Sabtu, 28 Februari 2009 melangsungkan tes di Kampus Utama Sekaran. Lokasi tes tulis tersebar dalam 19 lokasi yang meliputi 6 area fakultas di Kampus Utama Sekaran (Gedung A s.d F), Kampus Unisbank Jl. Tri Lomba Juang, Kampus Universitas Tujuhbelas Agustus (Untag) Pawiyatan Luhur, Semua gedung di Kampus Undip Tembalang, Fakultas Sastra Undip di Pleburan, seluruh gedung di Politeknik Negeri Semarang (Polines) Tembalang, Kampus Untag di jl. Pemuda, Kampus I USM di Jl. Atmodirono, Kampus USM III di Jl. Soekarno-Hatta, Kampus IAIN Walisongo Semarang, STIE Dharma Putra Jl. Pamularsih, SMA Ksatrian 1 Jl. Pamularsih, dan SMA -SMP Institut Indonesia (SMA/SMP II) Jl. Maluku Semarang.

Berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, pada saat hari pelaksanaan biasanya akan terjadi kemacetan di beberapa titik rawan yang merupakan pertemuan beberapa jalur angkutan. Beberapa lokasi yang perlu diwaspadai terjadinya kemacetan adalah Pasar Sampangan dan jalan Menoreh Raya, Jembatan Besi Sampangan, Sumur Jurang Ungaran-Gunungpati, dan beberapa titik di jalan sekitar Kampus Sekaran Gunungpati Semarang. Untuk mengatasi kejadian yang tidak diinginkan, maka panitia SPMU 2009 sudah bekerjasama dengan pihak yang terkait baik dari Kepolisian, Resimen Mahasiswa, dan Pramuka untuk dapat ikut membantu kelancaran jalannya SPMU 2009 dengan menempatkan beberapa personil mereka di titik-titik yang berpotensi mengalami kerawanan.

Untuk mempermudah akses masuk ke lokasi tes tulis, maka disarankan bagi peserta SPMU untuk memperhatikan hal-hal berikut ini. (1) Bagi peserta yang datang dari luar kota Semarang dan sekitarnya, seyogyanya untuk datang ke Semarang dan melihat dan memastikan lokasi tes tulis sehari sebelum tes dilangsungkan. Dengan demikian pada hari pelaksanaan, peserta tidak lagi harus mencari-cari lokasi tes tulisnya. (2) Panitia telah membuat peta lokasi SPMU 2009 beserta arah dan rute yang bisa diunduh di http://spmu.unnes.ac.id/fileku/peta_spmu_2009.pdf. Dengan bantuan peta dan rute lokasi SPMU tersebut, diharapkan membantu peserta untuk menemukan lokasi tes secara lebih cepat baik yang datang secara kolektif maupun perseorangan. (3) Pastikan semua peralatan dan perlengkapan tes tulis telah tersedia. Lembar jawaban tes menggunakan format Lembar Jawab Komputer (LJK). Panitia tidak menyediakan pensil, karet penghapus, dan alas untuk mengerjakan tes tulis. (4) Seluruh peserta diharapkan untuk dapat makan pagi (sarapan) sebelum tes dilangsungkan, mengingat tes tulis akan dilaksanakan secara maraton mulai pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 14.00 WIB. (5) Peserta hendaknya tidak mempercayai oknum atau pihak tertentu yang mengatasnamakan panitia SPMU 2009 yang menjanjikan dapat menjamin kelulusan seleksi SPMU 2009 dengan imbalan sejumlah uang yang diserahkan baik sebelum atau sesudah pengumuman hasil SPMU. Jika ada oknum yang melakukan hal tersebut maka dapat dipastikan itu merupakan bentuk penipuan bagi peserta SPMU. Panitia akan melakukan seleksi secara otomatis dengan bantuan komputer berdasarkan hasil tes tulis, tes keterampilan, tes wawancara, dan atau data lain yang diperlukan. Tidak ada campur tangan panitia secara langsung dalam memilih calon peserta yang diterima melalui SPMU 2009.

Bagi peserta yang memiliki masalah atau ada hal-hal yang perlu ditanyakan, maka sebaiknya melakukan kontak secara langsung ke Panitia SPMU 2009. Anda dapat menghubungi Sekretariat Panitia SPMU 2009 di Bagian Pendidikan dan Evaluasi BAAK Unnes, Gedung H Lantai I, Kampus Sekaran, Gunungpati Semarang, telp. / fax. (024) 8508084, e-mail: spmu@unnes.ac.id , untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut mengenai masalah yang Anda hadapi. Selamat berjuang dan berkompetisi secara sehat dalam SPMU 2009. Kami tunggu kedatangan Anda di Kampus Hijau Universitas Negeri Semarang. Semoga Sukses.

KeUNNESan, Umum , , , , , , ,

Demokrasi ala Indonesia Cetak Manusia Biadab

February 3rd, 2009

Selasa, 3 Februari 2009, barangkali menjadi salah satu hari yang kelam di bumi Indonesia. Seorang petinggi negeri dan Ketua DPRD Sumatra Utara tewas setelah terjadi amuk massa yang menuntut persetujuan DPRD SUmut tentang pembentukan Provinsi Tapanuli Utara (Protap). Barangkali sudah menjadi takdir, jika Ketua DPRD Sumut yang baru dua bulan menjabat tersebut, Drs. Abdul Aziz Angkat, MSP, menjadi tumbal demokrasi ala Indonesia.

Jika ditilik dari rentetan peristiwanya, sungguh apa yang dilakukan pengunjuk rasa yang sebagian besar mengenakan jas almamater Universitas Sisingamangaraja XII Tapanuli Utara (Unita) [lihat di http://harianmandiri.wordpress.com/2009/02/03/massa-protap-%E2%80%98ngamuk%E2%80%99-ketua-dprd-sumut-tewas/] tidak lebih baik dari para preman pasar yang disewa untuk membuat onar. SUngguh di luar akal sehat, jika mereka melakukan tindakan perusakan terhadap aset negara, melakukan pelemparan batu, pecahan kaca, dan semua barang-barang yang ada di gedung Dewan. Barangkali aksi demonstrasi bagi sebuah negara yang berlabel demokrasi adalah sesuatu yang wajar. Namun jika demonstrasi yang anarkis, merusak, menghilangkan hak-hak orang lain, apakah tetap dilindungi?

Ya, demokrasi ala Indonesia. Demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan tanpa batas. Kebebesan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Jika kita runut perjalanan demokrasi Indonesia setelah masa reformasi 1998, rasanya bukan suatu kemajuan yang didapat, bukan pula efektifitas dan efisiensi yang diperoleh. Namun justru kemunduran pola pikir, kemunduran daya nalar, rusaknya tata etika, penghamburan banyak potensi negeri baik (baca : uang), dan hilangnya tatanan kejujuran bagi rakyat. Cobalah kita lihat sebentar, seberapa sering Indonesia melaksanakan pesta pemilihan bupati, wali kota, gubernur di Indonesia. Hampir dalam 5 hari terdapat satu pemilihan langsung. Benar-benar gila!!!, itulah demokrasi ala Indonesia. Belum lagi jika kita lihat berapa uang yang harus dikeluarkan untuk prosesi pemilihan kepala daerah itu. Sebagai contoh, pemilihan gubernur Jawa Timur yang lalu setidaknya menghamburkan uang rakyat 820 Milyar rupiah.  Pemilihan Bupati SUbang Jawa Barat habis sekitar 23 Milyar. Anggaran Pemilu 2009 sebesar 6,6 Triliyun rupiah. Jika kita kalkulasi secara kasar,

Jumlah uang yang dihamburkan=6,6 T + 33 propinsi x 850 M + 483 Kab. Kota x 23 M = sekitar 45,10 Triliyun rupiah uang rakyat dihambur-hamburkan.

Masyaallah. SUngguh luarbiasa!!!, belum lagi dengan uang-uang HARAM (sogokan) yang dibagi-bagikan calon kepada rakyat untuk memilih mereka. Jika setiap pemilih diberi sogokan 10ribu rupiah, maka jika jumlah pemilih di Indonesia (pemilu 2009) 171.068.667 orang, maka akan terkumpul dana yang dihamburkan sebanyak 1,7 Triliun setiap kali pilihan. Jika di Indonesia ada minimal 3 kali event pemilu (Kab./Kota, Propinsi, Nasional), maka setidaknya 5,1 Triliun dana harus mengalir. Jadi hitung-hitungan secara kasar memperlihatkan bahwa total biayayang harus dikeluarkan untuk pemilu saja sekitar 51 Triliun. Jika dibandingkan dengan anggaran pendidikan kita (yang katanya sudah 20%) sebesar 224T, maka rasionya sekitar 24%, sebuah nilai yang cukup fantastis. Bagaimana kalau dana itu dibagikan kepada perguruan tinggi untuk research, untuk pembaruan alat-alat praktikum yang sudah renta?, tentu kondisinya akan lain.

Jika ditilik dari segi moral, rakyat sekarang sudah tidak malu-malu lagi mengakui bahwa sogokan itu tidak haram. Padahal haqqul yakin, jika suap menyuap dalam Islam adalah jelas, yaitu HARAM. Rakyat sudah pandai untuk berbuat curang, rakyat sudah lihai untuk berbuat culas. Rakyat sudah tidak memiliki rasa malu untuk memukul, menginjak, dan menendang. Rakyat sudah tidak lagi memperdulikan hakikat hidup dan kehidupan. Semua serba ingin dicapai secara instan, dengan mengorbankan sesama teman, kerabat, bahkan orang yang paling dikasihi. Berapa banyak rakyat harus saling bentrok dan saling serang, hanya karena calonnya kalah. Berapa banyak orang yang rela memutuskan tali persahabatan, hanya karena calon yang diusung beda. Sungguh biadab demokrasi ala Indonesia.

Barangkali, jika saya bisa bersuara lebih keras, maka akan saya katakan bahwa pemilu secara langsung untuk memilih bupati, gubernur, itu tidak perlu! Karena esensi demokrasi untuk kesejahteraan rakyat diabaikan. Esensi demokrasi ini untuk membuat rakyat sehat secara mental tidaklah dapat dipercaya.  Jadi agar manusia-manusia biadab Indonesia tidak tumbuh subur, stop dan hentikan “demokrasi ala Indonesia” ini sebelum rakyat bisa berfikir jernih dan bersikap normal.

Umum , , , , , , , , ,

Narasi Pancasila dalam Bahasa Arab

February 3rd, 2009

Seperti cerita saya pada postingan lalu, tidak tahu kenapa tiba-tiba saja saya terusik untuk mencoba mengingat kembali narasi Pancasila dalam Bahasa Arab. Saya pernah disuruh menghafalkan narasi ini saat sekolah di MTsN Susukan Kab. Semarang sekitar 13an tahun yang lalu. Karena memang saya dahulu agak ‘nggenah’ dalam hal mata pelajaran Bahasa Arab, maka saya tidak kesulitan menghafalnya. Bila dibanding dengan teman-teman dulu saat sekolah di MTsN, saya cukup unggul dalam mata pelajaran ini karena memang sudah terbiasa hidup di pesantren ndeso sejak kecil, hehehe….nggaya. Bahkan ini bukannya sombong, dulu pernah ujian akhir madrasah untuk mata pelajaran Bahasa Arab mendapat nilai 94 (kalau ga salah), dan 99 untuk Aqidah Akhlak.

Saat-saat sekolah di MTsN itulah menurut saya, masa yang paling excellent dalam hal kemampuanku. Masa-masa studi setelah itu sudah tidak lagi sehebat dulu terutama dalam hal menghafal dan menulis. Apa lagi saat ini, untuk menghafal saja susahnya minta ampun (mungkin sudah banyak dosa kali ya….).

Kok jadi ngelantur, lha wong tadi mau nulis narasi Pancasila dalam Bahasa Arab kok malah cerito. Berikut ini narasi Pancasila dalam Bahasa Arab versi hafalan saya dulu. Jika salah mohon dimaafkan dan mohon dibetulkan.

Narasi Pancasila dalam bahasa arab

Narasi Pancasila dalam bahasa arab

Pengalaman, Umum , , ,

Untukmu Sahabatku

July 5th, 2008

Sebuah do’a telah terjawab, rahasia besar telah terkuak
Sebuah akad telah terucap, transaksi suci telah terikrar
waktunya telah tiba panjatkan doa kepada-Nya
teriring bahagia dariku, untukmu teman sejatiku

Laut ta’ selamanya ramah hidup ta’ selamanya nyaman
Layar telah dikembangkan, perahu siap berlayar
Mengarungi samudera kehidupan, dan bersiaplah hadapi ombak
Tegarkanlah hati saat cobaan menerpa
Bersyukurlah atas apa-apa yang telah Allah berikan
Mungkin akan ada kerikil, manakala kita berjalan
Jadi awas, waspada, dan berusaha
Karena Takdir akan diberikan sebagai bagian dari usaha

Kehidupan baru akan segera dimulai
Hidup itu berirama, ada kalanya kita menangis,
kadang kita tertawa bahagia
Bersabarlah atas apa-apa yang terasa berat
Kasihilah orang-orang di sekeliling dengan tulus
Ekspresikan perasaan kita, hingga orang akan mengerti
Apa yang kita harapkan dan inginkan

Barokalloohu laka wabaroka ‘alayka wajama’a baynakuma filkhairin
Mudah-mudahan kalian berdua diberkahi Allah,
dan jadi tim yang tangguh di jalan-Nya
Semoga semuanya bisa lebih menguatkan
Aamiin…aamiin yaa rabbal ‘aalamiin

Takdir itu memang sekarang sudah terjadi, Selamat!!
Juli 2008
(diambil dari http://alifaisyah.multiply.com, dan diedit seperlunya)

Selamat untuk sahabat, temanku, Uswatun Hasanah. Semoga pernikahanmu besok malam (7/7/08) dengan Muhammad Ali Muttaqin berjalan dengan sukses. Semoga keberkahan selalu terlimpah! Amin.

Pengalaman, Umum , ,

Waduh, Live Voting Indonesian Idol Ditutup dengan Ciuman

July 4th, 2008

Aneh-aneh saja kelakuan VJ Daniel. Baru kali ini ada penutupan live voting babak 5 besar indonesian idol yang ditayangkan oleh RCTI ditutup dengan minta ciuman. Eh.. ternyata yang diminta, Bunga Citra Lestari (BCL),  untuk mencium juga mau… dasar!!!!

Sudah separahkan dunia entertaint kita?, Apakah tidak disadari kalau yang menonton acara ini adalah semua kalangan. Saya yakin mereka lupa, bahwa budaya timur sangat tabu dengan hal-hal semacam itu. CIuman bukan dengan muhrim dianggap sebagai sebuah hal yang biasa. Walaupun Si Daniel bukan seorang muslim, namun kejadian itu semestinya tidak terjadi. BCL yang juga sama, apakah tidak sadar kalau kepribadiannya digadaikan dengan perbuatan semacam itu?

Ya, seharusnya ada pihak yang menegur panitia penyelenggara acara itu, dalam hal ini FremantleMedia (kalau tidak salah). Bagaimana tindaklanjut kejadian ini? kita tunggu saja…

Umum , , , ,

Dari Fisika ke Mana-mana

May 3rd, 2008

Artikel berikut ini layak dibaca bagi mereka yang saat ini berkutat dengan Fisika. Silahkan dinikmati.

DARI FISIKA KE MANA-MANA
Oleh: Jansen H. Sinamo  [16 Februari 2007]
Artikel ini telah dibaca sebanyak 4768 kali


SATU dekade ke depan, manusia terkaya di dunia boleh jadi bukan lagi Bill Gates. Calon penggantinya bukan seorang computer nerd atau venture capitalist, melainkan fisikawan muda jenius bernama Stephen Wolfram. Ia baru saja menggemparkan jagat keilmuan dengan menerbitkan dan meluncurkan sendiri magnum opusnya setebal 1.200 halaman lebih berjudul The New Kind of Science (TNKS). Menurut sejumlah pembaca awal di situs Amazon.com, buku ini dalam magnitude dan gaya provokasinya dianggap setara dengan The Origin of Species-nya Charles Darwin dan Das Kapital-nya Karl Marx.

Yang luar biasa, Wolfram juga wirausahawan tulen yang piawai memasarkan dan menjual temuan-temuannya ke dunia bisnis yang makin knowledge intensive. Sebagai multijutawan dollar barangkali ia merupakan ilmuwan terkaya di dunia. Dengan kekayaan itu, ia mendanai sendiri riset-risetnya sambil menjadi CEO bagi perusahaannya dengan ratusan karyawan. Dalam komunitas fisika, sejumlah tokoh tak ragu mengatakan kehebatan Wolfram setara dengan…dewa-dewa terpenting fisika seperti Galileo, Newton, dan Einstein. Jika Galileo dikenang dengan Teori Pergerakan Planet, Newton dengan Teori Gravitasi, dan Einstein dengan Teori Relativitas, maka Wolfram dengan Cellular Automata.

Dengan perkakas ini, Wolfram mengklaim dapat memecahkan semua problem fisika abad ke-20 yang sampai kini masih misterius seperti soal relasi gaya-gaya elektromaknetik dan gravitasi. Dengan demikian cellular automata boleh jadi akan memenuhi impian suntuk Einstein- yang tak kesampaian hingga akhir hayatnya-akan adanya teori gabungan (unified theory of everything) yang mampu menjelaskan semua fenomena alam dan kosmos itu sendiri.

Namun, cellular automata lebih ambisius dari impian tertinggi Einstein. Bukan saja di bidang fisika, perkakas Wolfram ditengarai dapat menjelaskan serta memecahkan berbagai masalah fundamental dalam biologi, matematika, kimia, computer science, bahkan wilayah-wilayah lain yang secara tradisional dianggap di luar pengaruh fisika seperti sosiologi, psikologi, ekonomi, juga teologi, seni, dan filsafat.

***

APAKAH cellular automata itu? Sederhananya, cellular automata adalah sehimpunan proses fundamental peciptaan pola-pola keteraturan dengan menggunakan komputer (computer-generated ordering process) yang bentuk akhirnya sangat menyerupai apa yang terjadi di alam. Program komputer Wolfram ini mengambil input data yang tidak teratur (bahkan chaos), lalu diproses menggunakan sejumlah Aturan Wolfram, dan akhirnya menghasilkan output gambar yang sangat mengagumkan baik pola, kompleksitas, maupun derajat keteraturannya di layar komputer.

Dalam bukunya yang dipenuhi ratusan gambar itu, Wolfram menunjukkan proses terciptanya berbagai bentuk pola-pola yang kompleks seperti kristal es, bunga-bungaan, dedaunan, sebaran warna-warni bulu burung merak, spiral galaksi, turbulensi air deras, jaringan sirkuit otak manusia, badai topan, kulit kerang, lekak-lekuk sungai, pokoknya berbagai macam bentuk output dari sistem operasi alam semesta.

Wolfram berpendapat bentuk-bentuk yang dihasilkan oleh cellular automata itu bukan sekadar replika kebetulan dari fitur-fitur yang ditemui di alam, tetapi sekaligus dapat menjelaskan bagaimana alam bekerja pada tingkat paling fundamental. Karena itu, Wolfram tak ragu berpendapat, program cellular automata akan menjadi metoda paling ampuh yang dikenal umat manusia hingga kini, untuk memecahkan rahasia alam, sekaligus menjelaskan arsitektur jagat raya dan evolusi segenap bentuk kehidupan di dalamnya. Wolfram bahkan menengarai semesta alam ini tidak lain adalah sebuah mahakomputer alami yang berperilaku sebagai sebuah super cellular automata.

Di tingkat praktis, tidak saja celluar automata akan merevolusi jagat sains secara radikal, tetapi Wolfram juga menjanjikan terbukanya pintu gerbang lebar bagi lahirnya sejumlah besar teknologi baru dalam waktu segera seperti komputer kuantum, supermikroteknik pada skala atom, desain serta reparasi bagian-bagian jaringan dan organ tubuh, materi baru, dan obat-obatan baru yang lebih ajaib khasiatnya. Sungguh fantastis!

***

SIAPA gerangan sang jenius ini? Lahir tahun 1959 di London, Stephen Wolfram adalah a new kind of physicist. Ketika masih sekolah menengah di Eaton, Inggris, ia belajar sendiri fisika tingkat tinggi pada usia 12 tahun. Saat umurnya baru 15 tahun makalahnya di bidang fisika teori sudah muncul di jurnal fisika. Tak betah belajar dari guru dan dosen–menurut dia terlalu lamban–ia lalu melahap berbagai buku teks kelas berat ketika teman seusianya masih sibuk bermain Halloween dan bercinta monyet.

Pertama kali kuliah di Oxford, ia masuk semester satu. Sangat tidak menarik baginya, ia langsung menghadiri kuliah semester enam. Juga tidak cukup menarik, ia lalu memutuskan tidak pernah masuk kelas lagi. “Saya dapat mengetahui berbagai hal jauh lebih cepat dan lebih mendalam dengan membaca daripada mendengar dosen ngomong,” begitu alasannya menyebut kuliah sebagai kegiatan buang waktu. Hebatnya, ia mampu menghasilkan puluhan makalah di bidang kosmologi dan fisika partikel yang dimuat pada jurnal-jurnal fisika kelas tinggi.

Tidak sampai tamat S1 dari Oxford, ia langsung direkrut oleh raksasa fisika peraih Hadiah Nobel dari California Institute of Technology (Caltech), Murray Gell-Man, tahun 1978. Wolfram langsung masuk program doktor. Di kampus ini, di mana Richard Feynman, fisikawan legendaris lainnya bermukim, Wolfram juga tampak kurang tertantang. Agar ia betah, maka program doktor khusus diberikan padanya. Dalam tempo setahun saja, ia mendapat PhD pada usia 20 tahun tanpa harus membuat disertasi, tetapi cukup membundel ulang enam makalah terbaiknya.

Pergaulan intelektual tingkat tinggi antara doktor remaja Wolfram dengan fisikawan dewa sekelas Feynman dan Gell-Man hanya sanggup membuatnya kerasan selama 10 tahun di Caltech. Akhirnya ia bentrok juga dengan administratur institut itu perihal komersialisasi temuan-temuannya. Di usia 31 tahun, ia diterima di kampus Einstein yang legendaris, the Institute for Advanced Studies di Princeton. Wolfram tercatat sebagai anggota termuda institut itu sepanjang sejarah. Tapi, kampus penelitian paling bebas di dunia ini pun ternyata tidak sanggup menyediakan ruang bagi kebebasan gerak dan independensi intelektual yang dituntut Wolfram.

Akhirnya tahun 1986 ia mendirikan Wolfram Research Inc., institusi penelitian pribadinya. Di sinilah ia menggabungkan bisnis dan riset secara bebas yang berpuncak pada lahirnya mahakarya TNKS yang menggemparkan itu. Dalam rangka mengembangkan TNKS, Wolfram harus pula mengarang Mathematica–sebuah sistem software yang digunakan untuk keperluan komputasi teknikal dan pemrograman simbolik (symbolic manipulation programming)–terlebih dahulu, yang sama raksasa bobotnya dengan TNKS itu sendiri. Ini persis seperti Newton yang harus mengarang dulu kalkulus diferensial agar bisa menjelaskan gravitasi dan Einstein yang harus mengonstruksi dulu sebuah aljabar empat dimensi agar bisa menjelaskan relativitas.

Bedanya, kedua pendahulu Wolfram itu cuma ilmuwan murni yang hidup dari dana negara sedangkan Wolfram sekaligus entrepreneur kawakan yang jago mencetak duit gede dalam setiap langkahnya menuju puncak sains tertinggi.

***

KISAH Wolfram tampaknya tak pernah dibayangkan orang ketika memikirkan fisika. Bagi awam, fisika adalah ilmu esoteris yang tak jelas manfaat praktisnya. Sarjana fisika biasanya kere tak berduit. Pekerjaan mereka paling-paling jadi dosen atau penelitu. Otak mereka dipenuhi atom-atom, galaksi-galaksi, dan persamaan-persamaan matematika yang eksotis, tetapi kantung mereka enggak gaul. Wacana mereka serba makro tapi dompet super mikro. Konon Einstein sendiri pun pernah mengatakan, “Science is a wonderful thing if one does not have to earn one’s living at it.” Alhasil, citra fisikawan memang jauh dari menarik. Sampai hari ini pun fisika tidak pernah menjadi pilihan utama bagi kebanyakan mahasiswa cerdas namun tetap ingin hidup keren berkecukupan.

Sekitar tiga dekade lalu, jurusan fisika ITB bahkan harus menawarkan beasiswa bagi siapa saja yang bersedia masuk fisika jika lulus ujian masuk. Banyak input jurusan fisika saat itu merupakan mahasiswa kere. Sebagian lagi, terjebak oleh citra di atas, lalu hengkang dan testing ulang ke jurusan teknik. Memang ada juga minoritas yang hebat otaknya, termotivasi oleh the beauty of physics itu sendiri, menganggap mencari duit sebagai kegiatan yang inferior, memutuskan mendalami fisika sampai ke sumsum. Namun, makhluk seperti ini dianggap aneh oleh masyarakat. Orangtua pun biasanya tidak mengizinkan anaknya memilih fisika.

Bahkan, seorang ibunda Evelyne Mintarno pun, yang anaknya berhasil menjadi satu-satunya peserta putri dari Indonesia dalam Olimpide Fisika 2002 di Bali, belum merelakan putrinya memilih fisika karena terbelenggu anggapan fisikawan hanya bisa jadi guru. Padahal putrinya yang hebat itu, selain meminati sungguh fisika sudah diterima di universitas bergengsi, Stanford. (Kompas, 24/7)

***

KIPRAH para fisikawan sesungguhnya tidaklah sesempit menjadi dosen saja. Ilmu fisika yang selalu terobsesi dengan perkara-perkara fundamental, perumusan dan pemecahan masalah secara elegan, dengan disiplin berpikir yang rigor konseptual, sebenarnya lebih dari cukup sebagai bekal hidup penuh makna, termasuk hidup makmur kalau mau. Sisanya adalah minat, ambisi, dan etos kerja.

Selain menjadi peneliti dan guru, banyak sarjana fisika Indonesia akhirnya menjadi eksekutif bisnis (seperti Harianto Mangkusasono dan Charlo Mamora, terakhir keduanya menjadi konsultan pengembangan dan transformasi bisnis), rohaniwan (seperti Pater Drost), ekonom (seperti Rizal Ramli dan Umar Juoro, meskipun keduanya tidak menamatkan fisika), dan terbanyak menjadi profesional di berbagai bidang (misalnya IT, perminyakan, elektronika, otomotif, pers, SDM, pertambangan, perbankan) termasuk menjadi wiraswastawan. Intinya, dari fisika orang bisa ke mana-mana, tergantung minat, stamina juang, dan sekali lagi etos kerja.

Ke depan, seiring dengan munculnya fenomena Wolfram di atas, dapat diharapkan semakin banyak orang-orang muda yang terinspirasi menjadi fisikawan-hartawan. Mengapa tidak? Dalam dunia di mana kapitalisme global semakin meraja, semakin diperlukan sumbangan berbagai jenis inovasi berbasis fisika untuk menciptakan business value yang hebat-hebat.

Wolfram membuktikan, meraih kemakmuran tidak berarti mengorbankan ilmu, atau sebaliknya, berilmu tinggi tidak harus jadi miskin. Wolfram mendemonstrasikan sebuah paradigma baru. Menjual fisika untuk uang, dengan uang mendanai riset fisika, dan dengan uang cukup mampu memperoleh independensi berkarya, dengan sebuah efek samping yang tak kalah menarik: hidup enak dan berkecukupan.

Salah satu problem besar fisikawan murni Indonesia (ilmuwan berbasis universitas umumnya) ialah mengotakkan diri dalam ruang sempit penelitian. Mengemis dana penelitian dari birokrat yang tak paham penelitian, lalu mendapatkan dana superkecil dari anggaran negara yang memang tak peduli penelitian, kemudian dipotong sana-sini oleh oknum siluman. Maka, jadilah penelitian jejadian. Hasilnya? No money, no science, no dignity!

Saya setuju dengan pendapat Rektor ITB Kusmayanto Kadiman, bahwa ITB belum saatnya disebut a research university. Meskipun ada kontroversi di balik kisah Wolfram di atas, satu hal positif sudah jelas, ilmuwan jenis baru harus mampu menggabungkan tiga peran sekaligus: peneliti, marketer, dan eksekutif.

Saat negeri ini carut-marut dan tak punya uang, semakin absurd rasanya mengharapkan dana riset dari negara. Mungkinkah para ilmuwan kita meniru gaya Wolfram mencetak uang dengan dan dari ilmu mereka? Tantangan ini lebih relevan buat Indonesia, karena metoda favorit dalam mencari uang yang dipakai para pemegang kekuasaan di lembaga-lembaga negara kita–seperti diberitakan koran tiap hari–ialah main injak dan terkam kaya Ken Arok.

Padahal kata orang, kini era knowledge economy, di mana wealth creation akan lebih mengandalkan kreativitas, inovasi teknologi, dan pengetahuan intensif seperti didemonstrasikan Bill Gates dan Stephen Wolfram; dan bukan tanah, ternak, atau mesin, let alone brute power. Kalau ilmuwan-ilmuwan kita masa kini tidak bisa berkiprah lain daripada apa yang lazim dan zalim di masa lampau, tampaknya satu- satunya harapan kita ialah pada tunas-tunas belia yang bertarung di Olimpiade Fisika minggu lalu. Untuk mereka, selamat dan semoga jaya. Untuk panitia dan tim pelatih, terima kasih atas visi, kontribusi, dan dedikasi Anda.

*) Artikel ini dimuat di Harian KOMPAS, Edisi Senin, 29 Juli 2002

Ilmiah, Umum , , , ,

Wewenang dan Tanggung Jawab

April 18th, 2008

Pagi ini seperti biasa saya masuk Puskom (eh sekarang mau diganti BPTIK ya,…). Seperti biasa pula ada mahasiswa yang bermaksud bertemu. Lha ndak tahu kenapa kok mesti ketemu saya, padahal saya juga bukan Kapuskom, bukan Sekretaris Puskom, bukan Ketjur, bukan pembantu dekan, atau bahkan Pembantu Rektor I. Rata-rata mahasiswa datang dan memaksa saya untuk mengambil ’sebuah kebijakan’.

Yang datang kali ini adalah mahasiswa PKG PGSD S1. Masalahnya adalah dosen wali belum menyetujui KRS, KRS tidak dapat dicetak, Jurusan tidak tahu berbuat apa, dan menyuruh mahasiswanya mengadu ke Puskom. Setelah saya pikir-pikir kok apa puskom sekarang sudah menjadi lembaga ‘peraduan’?? Jika ditilik dari masalah ini, sebenarnya apa ada kaitan puskom dengan perwalian KRS?? Secara tata aturan yang benar, yang berhak dan berwenang menyetujui dan tidak menyetujui KRS adalah dosen wali. Perwalian dilakukan secara online. Jika dosen tidak berkenan perwalian secara online, maka disediakan alternatif perwalian manual, yang nantinya diinput oleh Sekjur ke SIkadu.

Jika itu tadi masalahnya, kenapa harus ke Puskom? Apakah sistem sejak lama memang demikian? Kalau begitu bagaimana dengan wewenang dan tanggungjawab ketua jurusan, sekjur, pembantu dekan 1? Itu kan menjadi tanggungjawab mereka untuk menyelesaikannya, sesuai dengan kontrak ketika beliau-beliau diangkat. Jika puskom dipaksa menyetujui KRS, apakah ini tidak justru merusak tatanan?

Pertanyaannya, kapankah seluruh sivitas akademika Unnes mengerti arti tanggungjawab, wewenang, hak, dan kewajiban mereka? Kapankah dosen wali, mahasiswa, pejabat, pegawai Unnes mau memahami hak dan kewajiban mereka? Yakin, jika semua sudah mengerti, maka Unnes akan cepat malaju menyusul universitas-universitas unggul di Indonesia. Semoga cita-cita Unnes SUTRA semakin dekat saja…

KeUNNESan, Umum , , , , ,