Tahu Nikmatnya Sehat Tatkala Menikmati Sakit
Sudah lama tidak melakukan posting di web ini. Ada banyak alasan yang bisa dijadikan alasan… (hhehehehe). Pertama waktu, ya waktu. Tampaknya waktu adalah faktor yang paling dominan mengapa aku sering lupa untuk update blog ini. Kok bisa? ya bisa tho.. Saat waktunya senggang, hati rasanya ingin sekali memanfaatkannya untuk istirahat. Mau nulis males, mau baca males, mau mengerjakan apapun males.Yang paling tidak males adalah bermalas-malasan. Sebaliknya saat waktunya sibuk, mengerjakan ini itu, mengejar deadline, dan mengajar mahasiswa, ujung-ujungnya tidak bisa nulis, tidak bisa baca. Tampaknya saya harus bisa belajar membaca. Ya, belajar membaca. Membaca waktu tentu salah satunya. Kapan waktu senggang bisa saya baca dan dimaknai sebagai waktu yang sibuk, dan membaca waktu yang sibuk sebagai waktu yang senggang. Dengan harapan semua serba setimbang.
Kedua, karena kondisi. Ini yang tidak bisa dilawan. Saya baru tersadar, bahwa sebaik apapun waktunya, sesenggang apapun waktunya, sebrilian apapun idenya, namun jika kondisi tidak memungkinkan ya tidak bisa tercapai apa yang diinginkan, termasuk nulis. Saya sekarang jadi mafhum, tidak semua yang diagendakan bisa diwujudkan. Saya jadi terbelalak, bahwa saya adalah makhluk kecil.
Judul di atas, memang sudah biasa ditulis orang lain. Namun saya baru saja memahami. Dulu memang saya tidak pernah memikirkan kalimat-kalimat itu. Tapi sekarang saya mengalaminya sendiri. Jika ada pertanyaan, adakah cara menikmati waktu kita dalam kondisi sehat? tentu banyak jawabannya. Kalau pertanyaannya sekarang adalah, apakah sakit bisa dinikmati? sebagai orang awam saya dengan tegas menjawab tidak. Ya, sakit tidak bisa dinikmati. Terus mengapa judulnya seperti itu?. Saya melihat tidak ada yang aneh kok. Namun judul itu harus dimaknai secara keseluruhan, dan jangan dipotong-potong. Orang yang sedang tidak menikmati, maka ia tidak akan bisa berfikir positif. Sebaliknya, orang yang menikmati tentu ia akan berfikir positif. Artinya, jika kita ingin tahu nikmatnya kondisi sehat, maka tatkala sakit pun kita harus bisa menikmatinya. Entah dengan berbagai cara. Jika kita sakit, kemudian kita tidak bisa menikmatinya, maka yang terjadi justru pikiran kita menjadi kalut, bahkan bisa meningkat stress. Nah pada kondisi tersebut, kita pasti tidak akan pernah berfikir bagaimana nikmatnya sehat. Namun jika kita menikmati sakit kita, maka kita akan bisa berfikir secara logis kelebih nikmatannya kondisi sehat. Coba dech renungkan.
Sembilan hari tergolek di RS Elisabeth sejak 8 Mei, gara-gara operasi ususbuntu akut atau dalam istilah medisnya appendicitis acute, membuat saya mulai berfikir. saya berusaha mati-matian untuk menikmati sakit saya. Memang susah, benar-benar susah. Tapi, saya mulai tahu apa maknanya menikmati sakit untuk bisa melihat lebih nikmatnya sehat.





Aku bukanlah siap-siapa. Aku adalah aku bukan saya. Lahir dari keluarga sederhana di sebuah desa di Kec. Susukan, Kab. Semarang, tepatnya di Tegalsari Desa Kenteng. Website ini lebih bersifat blog dari pada sebuah web resmi pribadi saya.
Komentar Terakhir