Soal Prediksi Ujian Nasional (UN) 2009
Ujian Nasional (UN) 2009 baik untuk sekolah menengah pertama/madrasah tsanawiyah maupun UN untuk sekolah menengah atas dan Madrasah Aliyah sebentar lagi akan dilaksanakan. Biasanya, hampir semua sekolah melakukan drill soal-soal ujian kepada siswanya. Satu hal yang mungkin sangat naif menurut hati saya. CUma memang barangkali baru itu yang bisa diperbuat sekolah berkaitan dengan kebijakan UN tersebut. Sekolah dituntut untuk tampil baik dengan meluluskan semua siswanya. Kelulusan siswa menjadi tolok ukur prestasi sekolah. Namun apakah ini benar? menurut saya ini tidaklah sepenuhnya benar. Alasannya apa kang? Di satu sisi, memang benar bahwa dengan baiknya pola pembelajaran yang dilakukan sekolah, maka secara sunnatullah siswa yang semula tidak tahu akan menjadi ‘tahu’, sehingga bisa mengerjakan soal dengan baik. Itu jika sekolah memang benar-benar berfungsi sebagai sekolah, bukan tempat penggorengan kacang-kacang masa depan yang menjadi gosong hanya agar bisa dinikmati sesegera. Namun dibalik itu semua, bahwa lulus dan tidak lulus dalam sebuah ujian adalah sebuah hal yang normal. Secara sunnatullah pula, bahwa tidak lulus ujian adalah hal yang lumrah bagi mereka yang memang secara ilmu tidak mampu. Jadi bagi mereka yang sebenarnya tidak mampu ya jangan dipaksa-paksa untuk lulus dengan cepat. Jangan-jangan nanti malah menjadi gosong dan tidak berguna lagi. Dalam statistikpun dikenal kurva normal dalam memandang sesuatu yang ideal. Jadi kalau ada yang tidak lulus adalah suatu kewajaran, jadi bukan suatu aib bagi sekolah.
JIka semua pihak sudah menyadari demikian, maka tindakan yang tidak terpuji dengan memanipulasi hasil UN tentu bukanlah suatu yang perlu dilakukan. Apalagi bagi sekolah-sekolah yang mengusung trendmark ‘Islam’ semacam Madrasah Tsanawiyah atau Madrasah Aliyah. Banyak dari pimpinan sekolah yang ingin semua siswanya lulus ujian dengan berbagai cara. Dan seperti saya utarakan di atas, sudah jamak jika semua siswanya lulus UN, maka Kepala Sekolah disebut berhasil. Padahal mereka melakukan kecurangan. Masyaallah.
Ujian Nasional tingkat SMA/MA mulai tahun ini agak berbeda dengan tahun lalu. Karena pengelolaannya diserahkan ke Perguruan Tinggi. Di Jawa Teng ah atas rekomendasi Majlis Rektor Indonesia, Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) menunjuk Unnes sebagai penyelenggara UN Tahun 2009 tingkat Jawa Tengah bersama dengan Gubernur Jawa Tengah. Dengan adanya peran PT di sini, maka kebocoran soal yang selama ini menjadi momok menakutkan bagi setiap peserta akan bisa dihilangkan. Mengapa? karena track record perguruan tinggi dalam menyelenggarakan ujian masuk bersama tingkat nasional belum sekalipun yang bocor.
Sebagai bahan pertimbangan, khusus bagi peserta UN 2009, maka perlu kiranya membaca Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 77 Tahun 2008 tentang Ujian Nasional Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA) Tahun Pelajaran 2008/2009 , Permendiknas Nomor 78 Tahun 2008 tentang Ujian Nasional Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah/Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMP/MTS/SMPLB), Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Tahun Pelajaran 2008/2009 , dan Permendiknas No. 82 tahun 2008 tentang Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) Untuk Sekolah Dasar /Madrasah Ibtidaiyah/Sekolah Dasar Luar Biasa (SD/MI/SDLB) Tahun Pelajaran 2008/2009. Dari Permendiknas ini baik guru dan peserta UN 2009 bisa memprediksikan soal-soal yang akan diujikan pada UN 2009 nantinya. Karena dalam Permendiknas tersebut sudah diberikan kisi-kisi soal UN 2009.
Silahkan bagi yang berminat bisa download file Permendiknas di halaman ini.
Aku bukanlah siap-siapa. Aku adalah aku bukan saya. Lahir dari keluarga sederhana di sebuah desa di Kec. Susukan, Kab. Semarang, tepatnya di Tegalsari Desa Kenteng. Website ini lebih bersifat blog dari pada sebuah web resmi pribadi saya.
kmu tuch guaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnnnnnnnnnnnnnttttttttteeeeeeeeeeeeennnnngggggggggg abissssssssssssssssssssssssssss
Mohon maaf sebelumnya, jika saya kurang sependapat dengan anda.
Terus terang saya sering kasihan dengan guru-guru kita. Mereka sudah bekerja keras untuk mendidik kita supaya pandai, tetapi tetap saja ada yang maedo, menyalahkan. Jika banyak siswa yang tidak lulus dipaedo dan dianggap tidak profesional, sementara saat berusaha untuk meningkatkan kualitas anak didiknya, mereka tetap disalahkan.
Naudzubillah min dzalik. Sadarlah wahai saudaraku.Para pahlawan yang sangat berjasa itu telah bersedia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membuat anak didik memahami pelajaran, supaya anak-anaknya pandai dan bisa mengerjakan soal ujiannya. Berbagai cara dilakukan, mulai dari menambah jam pelajaran, mengadakan les privat dan sebagainya. Tujuannnya satu, supaya anak-anak pandai dan bisa mengerjakan soal saat ujian.
Langkah sekolah dan guru nge-drill (yang bisa diartikan dengan melatih secara terus menerus) soal, menurut saya bukan sesuatu yang naif atau memalukan. Toh itu bagian dari proses pembelajaran, dan bukan sesuatu yang tabu. Ngedrill soal latihan UN, menurut saya hal yang positif supaya siswa bisa lebih tekun belajar.
Saya tidak tahu, apakah penilaian anda bahwa lulus atau tidak dalam UN merupakan suatu kewajaran, adalah pengalaman pribadi anda karena pernah tidak lulus. Atau karena ke-sok-an anda saja yang seolah-oleh benar-benar peduli pada pendidikan, lalu menganggap orang lain salah.
Coba anda hitung berapa kerugian siswa yang tidak lulus. Mulai dari faktor psikologis yang membuat siswa minder, faktor waktu yang harus membuat mereka mengulang pelajaran yang sama selama satu tahun, belum lagi biaya yang harus dikeluarkan, ditengah mahalnya biaya sekolah saat ini.
Faktor biaya, mungkin tidak masalah bagi siswa yang berasal dari keluarga mampu. Namun bagaimana bagi siswa yang berasal dari keluarga yang pas-pasan, atau bahkan tidak mampu. PAdahal untuk membayar uang bulanan dan ongkos harian ke sekolah saja, orang tuanya harus banting tulang dan pontang-panting bekerja, bahkan cari pinjaman.
Melakukan cara-cara kotor untuk lulus UN memang bukan sesuatu yang baik. Namun giat belajar dengan terus berlatih mengerjakan soal, menambah jadwal les atau usaha-usaha yang lain, tentu bukan sesuatu yang naif atau memalukan. Tuhan memang menciptakan sesuatu yang berpasang-pasangan, ada lulus dan ada yang tidak, itu sunatullah. Namun takdir saja, selama belum terjadi masih bisa diikhtiari.
Maka, selamat belajar adik-adikku. Terimakasih bapak dan ibu guru. Jasamu tiada tara. Suwun.
Terimakasih atas tanggapan Saudara yang begitu menyejukkan hati ini. Bukan maksud hati untuk tidak menghargai jasa-jasa guru-guru kita, namun pendapat saya lebih menyoroti kualitas pendidikan kita yang seperti ini. Saya sendiri sudah merasakan sebagai seorang guru, dan guru di Madrasah yang notabene sekolah kelas dua di negeri ini. Saya mengerti betul apa yang terjadi di sekolah, bagaimana suasana dan problematika mengajarnya. Jadi tidak ada maksud saya maedo Bapak Ibu guru yang telah mendidik kita. Justru dengan tulisan ini saya ingin guru-guru kita dihargai layaknya sebagai seorang pendidik, bukan sebagai tukang goreng kacang. Mohon maaf, jika kata-kata naudzubillah itu terlalu mengusik saya, jadi mohon untuk dicabut saja, karena saya dengan sangat sadar menulis pernyataan di atas.
Pendidikan yang berhasil adalah bukan didasari oleh faktor lulus ujian. Seolah-olah jika tidak lulus ujian maka kiamat sudah dunia ini. Mencekoki siswa dengan materi soal jawab merupakan upaya pembodohan kepada siswa. Bakat siswa sebagai seorang manusia dikebiri. Dalam hal siswa kelas tiga dilatih soal secara terus menerus, maka saya menjadi yakin bahwa apa yang dipelajarinya dalam tiga tahun menjadi tidak bermakna, padahal hakekat pendidikan adalah membentuk karakter, bukan menciptakan robot. Hasil dari sebuah pendidikan tidak bisa dilihat dalam satu atau dua tahun. Ini adalah masalah besar dalam pendidikan kita. Ini yang sudah menjadi keprihatinan dari semua pihak, dan ini pula yang wajib dicarikan solusinya.
Coba ANda lihat di zaman dahulu, banyak siswa kita yang tidak lulus ujian, namun mereka tidak bergejolak. Mereke bisa mengukur dirinya. Janganlah suatu keberhasilan itu dipaksakan. Rasanya sakit hati ini jika anak didik kita dipolitisir hanya untuk mendapatkan sejumlah jabatan, uang, dan kehendak. Mau dikemanakan anak-anak kita jika mereka dijadikan ladang ‘prostitusi’ pendidikan? Saya sangat mengapresiasi kepada mereka yang sungguh konsen dengan pengembangan pendidikan anak-anak kita, yang dengan tanpa lelah mereka berusaha menjadikan anak didik dari tidak bisa menjadi bisa. COba bayangkan jika Saudara mengajar di daerah terpencil, maka pendidikan sebagai pembentukan karakter menjadi sesuatu yang sungguh sangat penting bila dibandingkan hanya sekedar lulus ujian. Mudah-mudahan bangsa ini segera bangkit dari keterpurukan, jangan jadikan anak-anak didik kita sebagai ladang ‘prostitusi pendidikan’, maka kasihanilah mereka dengan pendidikan yang benar. Ya, pendidikan yang dapat menciptakan karakter mereka sebagai manusia yang benar-benar sebagai manusia. Salam.
bagus jga cuyyyyyy……………………..
@chipok
leh knlN CUYYYY
Sorry mungkin udah telat, komentar ini. tapi gak papa, soalnya setelahnya belum ada lagi.
Memandang pendidikan di indonesia tidak bisa hanya berdasarkan kacamata hitam putih. Ujian nasional yang diberikan pemerintah adalah hal yang positif paling tidak bisa digunakan untuk pemetaan sekolah. Sekolah dengan persentase kelulusan rendah mungkin karena faktor tertentu untuk kemudian dicari solusi peningkatannya. Dilain pihak guru juga tetap harus memantapkan proses pembelajarannya. Orang tua dengan segala kemampuannya juga harus mensuport anaknya untuk terus giat belajar dan belajar.
YAng jadi masalah adalah komponen ini tidak berjalan dengan baik. Pemerintah mengeluarkan standar yang wajib dipenuhi oleh semua anak bangsa tetapi tidak dibarengi dengan pemenuhan sarana dan prasarana yang diperlukan. Kemampuan ekonomi dan ilmu orang tua juga kurang mendukung untuk membangkitkan semangat belajar anak. (Kami di pelosok desa perbatasan Sumatera Utara dengan Aceh). Padahal orang tua menuntut anak harus lulus ujian nasional. Maklum saja di Indonesiakan juga masih menganut legalitas formal. Akhirnya dengan berbagai macam kekurangan yang ada guru harus ekstra keras membuat siswa lulus.
Dimana yang salah dan siapa yang harus disalahkan?
Bukan maksud membela guru karena saya guru. Tapi dalam kondisi sekarang ini, guru terjepit oleh sistem. Dari atasan mematok lulus karena itu berkenaan dengan harkat dan martabat atasan. Orang tua mematok lulus (pernah dengar guru dikejar-kejar siswa dan orang tua karena anaknya tidak lulus?)karena itu modal mereka mencari kerja. BAtin kecil guru menjerit karena melanggar sumpahnya sebagai guru.Belum lagi gaji guru masih…anda taulah (dibandingkan dengan tugasnya).
Akhirnya memang harus dikembalikan ke Pemimpin Negara. Kok gitu ? Lalu tugs guru apa?. Ya !. Negara yang berkewajiban memberikan kesejahteraan bagi warganya. Menjamin lapangan kerja, mendapatkan pendidikan yang layak dsb. Kalau standar nasional digunakan dengan betul hanya sementara memetakan sekolah, tentu akan lebih baik karena pasti akan ada pembenahan dan peningkatannya. Tapi sekarang yang terjadi kan sebaliknya. Guru yang telah mendidik anak hingga tiga tahun dengan segala kemampuan yang ia miliki. Guru yang mengetahui tentang perkembangan mental dan kemamopuan anak, semua itu hanya diputuskan dalam 4 hari ujian nasional. Maasih seputar kognitif belaka.
yach banyaklah yang musti didiskusikan, yang mungkin gak kan ada ujungnya sebelum pemerintah sendiri yang maau memperbaiki kinerjanya. Lihatlah kami yang dipelosok desa, bagaimana keadaannya.
Pembentukan kareakter seperti yang anda maksudkan sudah tidak laku lagi. Ijazah juga yang iya nya. Apa mau dikata. Oleh karenanya mari kita sukseskan Pemilu kali ini. Pilihlah pemimpin yang benar-benar bisa memimpin. Pilihlah wakil kita yang memang bisa mewakili kita. Kami guru sudah serba salah, maju kena mundur kena. rakyatlah yang menentukan perbaikan bangsa ini. salah memilih maka akan repot lagi 5 tahun kedepan.
KAmi memang sadar masih banyak kekurangan dari segihal kemampuan kami sebagai guru, tapi yakinlah kami tiada maksud menghancurkan pendidikan bangsa ini.
siiip, semangat untuk mengabdi harus selalu kita kibarkan dalam dada dan sanubari kita. Semangat merah putih!!
Moga2 pendidikan di Indonesia semakin maju.
tuk yang muda2 jangan putus semangat.
Salam kenal 0817 914 3732
salam kenal. Tetap Semangat!!
ujian nasional hanya formalitas belaka. saya kemaren baru saja menjalaninya,ternyata nggak sengeri yang selama ini kubayangkan.menunggu 3 tahun hanya untuk ujian konyol yang penuh kecurangan. anak kecil pun bisa kalo hanya menunggu jawaban dari temannya sambil ngemil.seakan2 pengawas nggak berfungsi sama sekali,mereka hanya masuk,membagi soal&LJUN ngrumpi dan keluar juga sebagai formalitas.EFEKTIFKAH UJIAN NASIONAL UNTUK MEMAJUKAN PENDIDIKAN BANGSA?????????????????
ya itulah Indonesia. Memang UN sudah jadi komoditas politik nasional. Dan lagi-lagi harga diri, dan masa depan bangsa ini dihancurkan sendiri oleh pemiliknya.
Setuju bngt pak?
perang melawan ilmu segera di mulaiiiiiiiiiiiiii ……
siapkan senjata mu,
maksudnya?